Share Your Words to the World

Dialog

Posted on: Agustus 2, 2009

Dialog ini dilakukan oleh seorang anak dengan ayah ibunya, malam hari, setelah makan malam, tentu saja, sambil duduk di kursi menghadap piring kosong bertengger di atas meja makan, dan beberapa batang cokelat terdampar di hadapan sang anak agar matanya yang divonis minus itu masih dapat melakukan pengawasan supaya tidak seorang pun mengambil makanan kesukaannya, cokelat.

Setelah meneguk segelas air putih demi sistem pencernaan yang sehat, si anak kembali membaca buku berisi 518 halaman, sebuah novel bertuliskan Twilight di jilid depannya.

Ibu dengan sabarnya membereskan piring2 kosong di atas meja, dengan tangan halus mengusap kepala sang anak dia berkata “Bungsu, suka banget kamu baca buku, tapi jangan lupa, matamu perlu istirahat nak.”

Seolah telinga itu tidak difungsionalkan, sang anak terus membaca kata per kata di setiap halaman yang seolah telah menyedotnya masuk ke dalam cerita, tapi dia begitu sadar, ibu-nya masih menatapnya di balik kelembutan tatapan dan senyum manisnya.

Sang ayah tidak sesabar ibu dalam mendidik anak, dia mengambil satu cokelat, sang anak dengan segera mencegah tangan sang ayah, menatapnya serius dengan makna “jangan ambil!”
Sang ayah menatapnya sambil tersenyum jahil, seolah dia berbicara “pelit!”

Sang anak menutup buku, keluar dari imajinasinya sebagai tokoh dalam novel itu, dia mengambil satu cokelat, membuka bungkusnya, membelahnya menjadi dua dengan ukuran tidak sama. Di berikannya salah satu cokelat dengan ukuran lebih kecil kepada sang ayah. Si anak tersenyum manis dan kemudian menikmati cokelat dengan potongan besar sambil melanjutkan imajinasinya tentang si vampir dalam buku.
Dan saat itulah, dialog ini terjadi…

Ayah: Gimana kuliah?
Anak: Tinggal sidang, tanggal 10 sampe 15 Agustus, jadwal pastinya belum keluar.
Ayah: Udah itu?
Anak: Wisuda, Oktober.
Ayah: Udah wisuda?

Sang anak menurunkan buku yang sedang dia baca, tangannya membenarkan posisi kacamatanya dan menatap sang ayah yang sedang serius menatapnya, ‘kali ini tidak bercanda’ itu pikirnya.

Anak: Kerja, mungkin.
Ayah: Bukannya mau kuliah lagi?

Sang anak akhirnya menutup buku, tidak peduli bagaimana para tokoh imajinasinya terus memanggil dia di dalam buku, sangat menggoda untuk melanjutkan petualangan, sebuah petualangan yang asyik walaupun sangat fiktif.

Anak: Boleh tanya?
Ayah: Apa?
Anak: Kalau kuliah lagi, boleh bawa motor?
Ayah: Untuk?
Anak: Kemarin liat sks dan mata kuliahnya, kebanyakan project dan banyak di luar kampus, butuh transportasi.
Ayah: Oh…
Anak: Jadi?
Ayah: Boleh, asal ga bawa sendiri.
Anak: Maksudnya?
Ayah: Nanti dianter, kalau ga sama ayah-mu ini yah sama teteh-tetehmu…
Anak: Kemana-mana?
Ayah: Iyah…
Anak: Ga ngerti deh…
Ayah: Apanya?
Anak: Banyak orang bawa motor sendiri kenapa aku ga?
Ayah: Ya soalnya itu kamu…
Anak: Apa?
Ayah: Kalau ke kampus nanti diantar, pulang dijemput, kalau mau kemana2 bilang nanti diantar, pokonya ga boleh bawa sendiri.
Anak: Berlebihan.
Ayah: Ga.
Anak: Kalau gitu mau kerja aja.
Ayah: Boleh.
Anak: Bawa motor.
Ayah: Dianter.
Anak: Kalau udah kerja boleh beli motor?
Ayah: Boleh?
Anak: Boleh bawa sendiri?
Ayah: Ga.
Anak: UMIIIIII!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Sang ibu datang dari arah dapur,bergabung duduk di kursi menghadap meja makan, di seberang sang anak.

Anak: Masa kalo punya motor sendiri juga ga boleh bawa?

Sang ibu hanya manggangguk, senyum…

Ayah: Apa kamu punya rencana yang lebih bagus daripada beli motor?
Anak: Iyah.
Ayah: Apa?
Anak: Pake motornya sendiri.
Ayah: Apa itu hasil kuliah kamu?
Anak: ???
Ayah: Seharusnya kamu punya rencana yang lebih bagus daripada sekedar bawa motor sendiri.
Anak: Aku punya banyak rencana, bener2 banyak. Pake motor sendiri itu salah satu rencana, supaya gampang jalanin rencana yang lain.
Ayah: Kalo gitu kamu boleh beli motor, boleh belajar motor, boleh bisa bawa motor, tapi kalo bawa motor sendiri, apalagi ke jalan raya, sama sekali ga boleh.
Anak: Apa-apaan?
Ayah: Bungsu, denger, selama ayah kamu ini masih ada, kamu sama sekali ga diijinin pake motor sendiri. Sebaiknya kamu pikir rencana jangka panjang, tanpa motor.
Anak: Mobil?
Ayah: Lebih baik, semoga kamu bisa jadi orang sukses, dan punya sopir?
Anak: Bawa sendiri?
Ayah: Ga.
Anak: Apa2an….

Sang anak bukan tipe anak penurut, dia terus memprotes, walaupun dia tau protesnya tidak didengar…
Ayahnya tidak melihat ke arahnya lagi, melainkan sangat serius melihat berita televisi, tentang pemburuan sang teroris.
Dia melanjutkan membaca bukunya, menghiburnya dengan petualangan dalam imajinasinya, dan gagal!
Dia mencoba cara lain menenangkan hatinya, diambilnya satu cokelat pasta, dan dengan penuh kekanak-kanakan dia memakan cokelat itu. Sambil sesekali menendang udara di bawah meja, morang-maring di depan ibunya.
Sang ibu tersenyum, melihat tingkah laku anak bungsunya

Dan dialog ini mengakhiri semuanya, bahkan melumpuhkan keegoisan sang anak terhadap orang tuanya.

Ibu: Kamu masih ingat waktu kamu kelas 3 SD dulu?
Anak: Tentang kecelakaan waktu itu kah?
Ibu: Iyah.
Anak: Itu udah lama banget, dan tolong yah, siapapun bisa mengalami hal itu, kalau udah nasib!
Ibu: Sebaiknya kita lebih hati2 supaya nasib itu ga terjadi lagi…
Anak: Waktu itu aku ketabrak, pas nyebrang, bukan lagi naek motor.
Ibu: Tapi dampaknya kepala kamu, kamu tau sendiri seperti apa?
Anak: Sampe2 aku ga boleh maen in line skate, ga boleh maen sepeda, sekalinya maen pake helm, gitu? Ribetnya….
Ibu: Apa kamu tau kejadian waktu itu? Benar-benar membuat semua orang panik.
Anak: Karena berpikir aku bakal mati?
Ibu: Karena dokter menyebutnya begitu.
Anak: Tapi aku selamat.
Ibu: Setelah segala macam upaya.
Anak: Tapi aku selamat.
Ibu: Tapi sesekali, bukan, sering sekali kepala kamu sakit akibat kecelakaan itu. Nak mengertilah bahwa kepala kamu tidak sebaik kondisinya sebelum kecelakaan itu terjadi…
Anak: Tapi aku masih sehat, bahkan aku masih bisa hidup normal, bukankah begitu?
Ibu: Benar…
Anak: Kalau gitu tolong jangan jaga aku berlebihan. Aku ikuti semua yang kalian inginkan, setiap hari aku bawa bekal makanan, aku tahu supaya aku ga kurang makan di kampus, walalupun itu berlebihan. AKu ikuti semua permintaan, diantar ke kampus, dijemput, bahkan aku sama sekali ga eksis dalam oraganisasi kampus, karena aku ga boleh capek, bener2 berlebihan. Setiap kali aku harus telpon, kasih kabar, tiap kali setelah lewat jam tujuh malam aku harus telpon kalo belum pulang, minta ijin kalo harus kemana2… Apa kalian ga pikir tentang aku, kapan aku bisa jadi dewasa kalau kalian terus memperlakukan aku seperti anak-anak. Selalu, seperti itu, selamanya… Apa itu yang kalian mau?
Ibu: Kita hanya ingin kamu baik-baik saja, nak.
Anak: Aku bisa jaga diri aku sendiri, betul2 bisa. Dan sampai sekarang aku baik-baik aja.
Ibu: Kita percaya.
Anak: Kalau gitu jangan perlakuin aku kayak anak kecil lagi.
Ibu: Tapi kamu anak kami. Paling berharga di atas segala2nya, dan kita akan melakukan segala2nya untuk melindungi kamu, menghindarkan kamu dari bahaya, selama kami masih ada, kami akan melakukannya, karena kami sangat tidak ingin kehilangan kamu.
Anak: Tapi semuanya berlebihan…
Ibu: Ga ada yang berlebihan… Kita sama sekali ga mengatur kamu, ingat, apapun yang kamu lakukan selalu atas ide kamu, kamu bukan orang yang mendengar orang lain.
Anak: Iyah..
Ibu: Kalo gitu mengertilah orang tuamu ini. Kami tidak menjagamu dengan berlebihan, hanya saja kami menyayangimu dengan sangat berlebihan.
Anak: ….
Ibu: Saat di rumah sakit waktu itu, dokter mengatakan otakmu bermasalah, ada semacam benturan yang membuat otakmu pendarahan, dan disana ada benjolan, akibat kecelakaan. Gegar otak, parah. Tidak ada setetespun darah keluar dari tubuhmu, tapi dalam kepalamu, banyak. Kamu tau apa yang dibilang dokter itu?
Anak: ….
Ibu: Suatu keajabain kamu bisa sembuh. Tapi nak, kamu akan kesulitan untuk sekolah, karena kondisi otakmu tidak sehebat dulu, itu mempengaruhi cara pikirmu, mempengaruhi kecerdasanmu.
Anak: Ibu ga pernah cerita?
Ibu: Bagaimana kami menceritakan pada kamu, disaat itu kamu sangat rajin sekolah, penuh semangat, ceria, bahkan menutupi kesakitan kepalamu yang sangat luar biasa, melihatmu menangis di pagi hari karena kepalamu yang begitu sakit, tapi kamu tetap meminta kami mengantarmu ke sekolah, tidak peduli betapa banyak air mata yang kamu keluar, menahan sakit. Kamu tetap semangat, berusaha tersenyum, terus sekolah, belajar, menyusul ketinggalan akibat perawatan rumah sakit. Bahkan saat sering pingsan di sekolah kamu menolak untuk tinggal di rumah esok harinya. Ketika kamu harus istirahat kamu masih ingin belajar. Di saat teman2mu bermain kamu ada di UKS, kelelahan karena berpikir. Masih tetap bisa tertawa, mengeluarkan lelucon-lelucon yang membuat teman-temanmu terkekeh, padahal kamu sendiri menahan sakit. Membuat semua orang percaya bahwa kamu tidka apa-apa, padahal kamu sendiri berjuang melawan sakit itu. Tidakkah itu membuat kami semakin sakit?
Anak: …
Ibu: Setelah konsultasi pada dokter, dokter itu hanya mengatakan bahwa semangatmu yang membawamu untuk tetap bertahan. Dan kami benar2 tidak ingin membuatmu kehilangan semangat. Apalagi prestasimu setelah perawatan di rumah sakit, bukan semakin buruk tapi justru semakin meningkat.
Anak: Benarkah?
Ibu: Iyah, tapi itu yang mencemaskan kami. Kami berbicara pada dokter. Dokter mengingatkan kami, kamu tidak boleh, sangat tidak boleh menggunakan otakmu untuk berpikir keras. Dokter bahkan menganjurkan agar kamu tidak melanjutkan sekolahmu ke SMP.
Anak: Dokter apaan?
Ibu: Tapi kamu anak pintar, saat kelulusan ibu dengan bangga membawa ijazahmu, lengkap dengan pujian dari wali kelasmu. NEM mu tinggi. Apakah kami harus mendengar nasihat dokter itu di saat kamu tersenyum gembira?
Anak: ….
Ibu: Kami memutuskan menitipkan kamu pada uwa-mu yang menjadi wakil kepala sekolah di SMP, bukan SMP favorit tapi cukup berkualitas, dan disana kamu tidak perlu berpikir terlalu keras. Aman.
Anak: Aku pikir waktu itu pilihan wali kelas…
Ibu: Benar, atas permintaan kami.
Anak: …
Ibu: Dan kami mendapat informasi, bahwa ada anak seperti kamu di kelas kamu sendiri.
Anak: Sri?
Ibu: Iyah..
Anak: Dia pintar, baik, lugu, dan…. sering sakit kepala.
Ibu: Iyah. Dia mengalami kecelakaan yang sama dengan kamu, tapi dia tidak seberuntung kamu. Dia harus berhenti sekolah setelah baru beberapa bulan dia sekolah.
Anak: …
Ibu: Taukah kamu berapa beruntungnya kamu. Kami selalu was-was menghadapi kenyataan yang harus kamu hadapi. Tapi lagi-lagi, semangatmu membuat kami takjub. Dan ceriamu itu, benar-benar luar biasa. Kamu selalu membuat orang-orang di sekitarmu tersenyum. Sepertinya kamu tidak ingin membuat orang lain cemas saat kamu sakit. Kamu selalu menciptakan kehangatan, membuat semua orang tertawa, disaat yang bersamaan kamu menahan sakit. Tapi tidak membiarkan orang lain tahu, karena kamu masih berusaha membuat mereka tersenyum, tertawa, bahagia.
Anak: Ga juga, aku ingat, dulu aku sering ijin ke UKS, atau minta jemput, pulang. Dari SD sampai SMP masih kayak gitu. Malah reuni SD kemaren aku dijulukin “Si UKS” soalnya bentar2 pusing, UKS lagi, UKS lagi….
Ibu: Benar.
Anak: Terus?
Ibu: Kami bertanya pada dokter. Apa yang harus dan tidak harus kami lakukan.
Anak: Apa kata dokter?
Ibu: Kami harus mendukungmu, dan melindungimu. Kepalamu jangan sampai kena benturan lagi, akan fatal. Jangan telat makan, telat tidur kelelahan, dan kepanasan.
Anak: Aku bakal sakit kepala kan?
Ibu: Iyah.
Anak: Tapi sekarang jarang kan?
Ibu: Sesekali pernah.
Anak: Tapi jarang.
Ibu: Tapi kami akan tetap melakukan apa yang selalu kami lakukan, mendukung dan melindungimu. Selamanya.
Anak: Tapi aku sehat.
Ibu: Sangat sehat, kuat, dan pintar. Kalau tidak tentu saja kamu tidak seperti ini sekarang.
Anak: Kalau gitu ga perlu berlebihan.
Ibu: Tapi rasa sayang kami, sangat berlebihan, tidakkah kamu mengerti itu nak?

Anak terdiam, menatap mata sang ibu dengan lekat. Mata penuh ketulusan, jujur dan penuh kasih sayang.

Pandangannya beralih pada sang ayah, dia tahu ayah mendengar semuanya walalupun terlihat tidak mendengarnya.

Diraihnya dua batang cokelat yang disenanginya, tanpa dibelahnya menjadi dua, diberikannya cokelat utuh pada sang ibu dan ayah.

“Sungguh aku menyayangi kalian”, batinnya.

4 Tanggapan to "Dialog"

mmm….
seperti bukan arin yang bercerita…..
sip..semangat rin!!!

ga tau tiba2 aja ad tulisan beginian di blog gwa yang sangat menawan ini…
aneh…
sapa yah yang nulis? 😛

oh berarti kepribadian ganda lu keluar lagi rin

dulu kan lu berkepribadian ganda gitu,,,
ingat yang menerormu
tentang kau dan ”dia”

apa yah kin hubungannya dengan si saiko itu yah?

ane jadi pnasaran lagi,
siapakah si saiko ituh?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

skarang tanggal brapa cuy?

Agustus 2009
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Kategori, dulz ^_~

sepak terjang gwa sebagai blogger, (HWADEZIG!)

eksis

  • Tak ada

ANGGOTA MAFIA

  • 217,396 ORANG

on line… on line… on line… on line…

Twitter guweh….

  • @gevirucha tp penulis'a g lussssuuuhhhh dan eennnggggaaakk tua, iyukk, catet.. Btw thx y..(^o^)v 2 years ago
  • @intanLM Aku pun bertanya2 nak, kapan novel selanjut'a bisa terbit??? Tp gmn bs terbit, ditulis aja belum.. Hwadezig bgt dah!(^o^)v 3 years ago
  • @AetadaAsashi nah... Coba cek di @GagasMedia. Barangkali bisa bantu..(^o^)v 3 years ago
  • @AetadaAsashi nak, sperti'a km keliling d toko buku di tempat "cara cepat & hemat memelihara sapi ternak" pantes buku'a g ada..(^o^)v 3 years ago
  • Tanya: "Rin, bikin path napa!". Jawab: "ntar kl anak saia udh lahir ta bikinin path..." Hohoho(^o^)v 3 years ago
  • Hanya bersama dede utun yg semakin lincah menendang2.. Pertama: dy ngajak main. Kedua: dy lapar.. Obaiklah..(^o^)v 3 years ago
  • Yes as always... Tiap kali pertama di suatu tempat selalu: ga bisa tidur..(^o^)v 3 years ago

Ini tentang Arin ajah!

Click to view my Personality Profile page

Kuissssss, yang bisa berarti temen arin…

yang nyorat nyoret blog inih :)

POLING! POLING!

%d blogger menyukai ini: